kabargaming.com – Publik esports Indonesia tengah dibuat geleng kepala melihat performa RRQ Hoshi di panggung MPL ID S17. Tim yang selama ini dielu-elukan sebagai “Raja dari Segala Raja” justru tampil jauh dari ekspektasi. Alih-alih mendominasi, RRQ kini terpuruk di dasar klasemen tanpa satu pun kemenangan hingga pekan ketiga. Situasi ini bukan sekadar penurunan performa ini adalah alarm keras bagi salah satu tim paling bersejarah di scene Mobile Legends Indonesia.
Sejak pekan pertama dimulai, RRQ Hoshi langsung menunjukkan tanda-tanda ketidakstabilan. Mereka tampil ragu-ragu, kehilangan arah permainan, dan gagal mengeksekusi strategi dengan baik. Lawan-lawan yang dulu bisa mereka tekan kini justru mampu membalikkan keadaan dengan mudah. RRQ tidak lagi terlihat sebagai tim yang menakutkan. Mereka tampak seperti kehilangan identitas.
Kondisi ini semakin memburuk ketika RRQ harus menelan dua kekalahan beruntun pada pertandingan yang berlangsung Jumat (10/04/2026) dan Minggu (12/04/2026). Dalam laga yang digelar di XO Hall MPL Arena, RRQ kembali gagal mengamankan poin penuh. Alter Ego dan Geek Fam tampil lebih siap, lebih disiplin, dan jauh lebih tajam dalam membaca permainan. Mereka tidak memberi ruang bagi RRQ untuk berkembang.
Yang paling mencolok, RRQ terlihat kehilangan koordinasi. Rotasi mereka sering terlambat, objektif penting seperti Turtle dan Lord kerap lepas begitu saja, dan keputusan dalam team fight terasa tidak sinkron. Kesalahan demi kesalahan terus terulang tanpa perbaikan yang signifikan. Ini bukan sekadar soal kalah ini soal bagaimana sebuah tim besar tampak tidak siap bersaing.
Drafting juga menjadi sorotan tajam. RRQ beberapa kali memilih hero yang tidak efektif menghadapi komposisi lawan. Alih-alih menciptakan keunggulan, pilihan tersebut justru membuat mereka kesulitan sejak early game. Ketika memasuki mid hingga late game, mereka sudah tertinggal jauh dan tidak memiliki cukup momentum untuk bangkit.
Tekanan kini jelas berada di pundak seluruh tim. Status besar yang selama ini melekat pada RRQ justru berubah menjadi beban. Setiap kekalahan memperbesar sorotan, setiap kesalahan memperpanjang kritik. Para penggemar yang dulu selalu percaya kini mulai mempertanyakan arah tim ini.
Namun, yang lebih mengkhawatirkan bukan hanya hasil, melainkan mental permainan. RRQ terlihat kehilangan kepercayaan diri. Mereka bermain terlalu hati-hati di satu momen, lalu terlalu gegabah di momen lain. Inkonsistensi ini membuat mereka sulit mengontrol tempo pertandingan. Tanpa kepercayaan diri, tim sebesar apa pun akan mudah runtuh.
Sementara itu, tim-tim lain justru menunjukkan perkembangan signifikan. Kompetisi di MPL Indonesia semakin ketat, dan tidak ada lagi ruang bagi tim yang tampil setengah hati. Setiap tim datang dengan persiapan matang, analisis mendalam, dan eksekusi yang disiplin. Dalam situasi seperti ini, RRQ tidak bisa lagi mengandalkan nama besar.
Langkah pertama yang harus mereka ambil adalah memperbaiki koordinasi. Tanpa kerja sama yang solid, strategi sehebat apa pun tidak akan berjalan. Selain itu, mereka harus lebih fleksibel dalam drafting, menyesuaikan dengan meta dan gaya bermain lawan. Adaptasi menjadi kunci jika ingin keluar dari tekanan.
RRQ juga perlu mengembalikan rasa percaya diri. Mereka harus bermain dengan keberanian, bukan ketakutan. Kini, semua mata tertuju pada RRQ Hoshi. Akankah mereka bangkit dan membuktikan diri sebagai raja yang sesungguhnya? Atau justru terus terpuruk dan menjadi bayang-bayang dari kejayaan masa lalu? Jawabannya akan terlihat dalam pekan-pekan berikutnya.
Satu hal yang pasti, jika RRQ tidak segera berubah, maka musim ini bisa menjadi salah satu yang paling kelam dalam sejarah mereka. Dan bagi tim sebesar RRQ Hoshi, kegagalan seperti ini bukan sekadar kekalahan—ini adalah krisis identitas.

Jika tren negatif ini berlanjut, persaingan menuju babak playoff akan menjadi semakin menantang bagi RRQ Hoshi. Pekan-pekan berikutnya akan sangat krusial bagi tim untuk bangkit dari keterpurukan.